Wisata Candi Wahana Dan Candi Apit

Wisata Candi Wahana Dan Candi Apit

Tempatwisatadiyogyakarta.web.id – Kuil Nandi. Kuil ini memiliki tangga masuk ke barat, yaitu, Kuil Siwa. Nandi adalah banteng suci yang mengendarai Dewa Siwa. Jika dibandingkan dengan Kuil Garuda dan Kuil Angsa di kanan dan kiri, Kuil Nandi memiliki bentuk yang sama, hanya ukurannya yang sedikit lebih besar dan lebih tinggi. Tubuh candi terletak pada ketinggian sekitar 2 m. Seperti yang ditemukan di Kuil Siwa, di dinding kaki ada dua pola ukiran yang terletak sebentar-sebentar. Yang pertama adalah gambar singa berdiri di antara dua pohon Kalpataru dan yang kedua adalah gambar sepasang binatang yang berlindung di bawah pohon Kalpataru. Dua burung hinggap di pohon. Gambar-gambar ini juga ditemukan di wahana lain.

Candi Nandi memiliki satu ruangan dalam tubuhnya. Tangga dan pintu masuk ke ruangan terletak di sisi barat. Dalam ruangan terdapat Arca Lembu Nandi, kendaraan Syiwa, dalam posisi berbaring menghadap ke barat. Dalam ruangan tersebut terdapat juga dua arca, yaitu Arca Surya (dewa matahari) yang sedang berdiri di atas kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda dan Arca Candra (dewa bulan) yang sedang berdiri di atas kereta yang ditarik oleh sepuluh ekor kuda. Dinding ruangan tidak dihias dan terdapat sebuah batu yang menonjol pada tiap sisi dinding yang berfungsi sebagai tempat meletakkan lampu minyak. Dinding lorong di sekeliling tubuhcandi juga polos tanpa hiasan pahatan.

Candi Garuda. Candi ini letaknya di utara Candi Nandi, berhadapan dengan Candi Wisnu. Garuda merupakan burung tunggangan Wisnu. Bentuk dan hiasan pada kaki dan tangga Candi Garuda serupa dengan yang terdapat di Candi Nandi. Walaupun dinamakan candi Garuda, namun tidak terdapat arca garuda di ruangan dalam tubuh candi. Di lantai ruangan terdapat Arca Syiwa dalam ukuran yang lebih kecil daripada yang terdapat di Candi Syiwa. Arca ini diketemukan tertanam di bawah candi, dan sesungguhnya tempatnya bukan di dalam ruangan tersebut.

Candi Angsa. Candi ini letaknya di selatan Candi Nandi, berhadapan dengan Candi Brahma. Angsa merupakan burung tunggangan Brahma. Ukuran, bentuk dan hiasan pada kaki dan tangga Candi Angsa serupa dengan yang terdapat di Candi Garuda. Ruangan di dalam tubuh candi dalam keadaan kosong. Dinding ruangan juga tidak dihias, hanya terdapat batu yang menonjol pada dinding di setiap sisi ruangan yang berfungsi sebagai tempat meletakkan lampu minyak.

Baca juga : Wisata Candi Syiwa

CANDI APIT

Candi Apit merupakan sepasang candi yang saling berhadapan. Letaknya, masing-masing, di ujung selatan dan ujung utara lorong di antara kedua barisan candi besar. Kedua candi ini berdenah bujur sangkar seluas 6 m2 dengan ketinggian 16 m. tubuh candi berdiri di atas batur setinggi sekitar 2,5 m. Tidak terdapat selasar di permukaan kaki candi. Masing-masing mempunyai satu tangga menuju satu-satunya ruangan dalam tubuhnya. Hanya ada hal yang istimewa tentang candi ini, ialah ketika candi ini sudah selesai di bangun kembali, kelihatan sangat indah.

CANDI PENJAGA

Selain keenam candi besar dan dua candi apit yang telah diuraikan di atas, di pelataran atas masih terdapat delapan candi berukuran sangat kecil, yaitu dengan denah dasar sekitar 1,25 m2. Empat di antaranya terletak di masing-masing sudut latar, sedangkan empat lainnya ditempatkan di dekat gerbang masuk ke pelataran atas.

Wajah Prambanan sekarang telah terlihat cantik. Di depan komplek candi, dibangun panggung pentas sendratari Ramayana dan Taman Wisata Prambanan yang dapat mempercantik wajah komplek Prambanan.

Wisata Candi Syiwa

Wisata Candi Syiwa

Tempatwisatadiyogyakarta.web.id – Ketika ditemukan, Kuil Siwa berada dalam kondisi rusak parah. Pemulihan itu memakan waktu lama, yang dimulai pada 1918 dan baru selesai pada 1953. Dinamai Kuil Syiwa karena di dalam kuil ini ada Arcaid Siwa. Kuil Syiwa juga dikenal sebagai Kuil Rare Jonggrang, karena di salah satu kamarnya adalah Patung Durga Mahisasuramardani, yang sering disebut sebagai Patung Rare Jonggrang. Tubuh candi berada pada ketinggian sekitar 2,5 m. Kuil Syiwa, yang terletak di tengah deretan barat, adalah candi terbesar. Denah dasar adalah bujur sangkar 34 m2 dengan ketinggian 47 m.

Sepanjang dinding kaki candi dihiasi dengan pahatan dua macam hiasan yang letaknya berselang-seling. Yang pertama adalah gambar seekor singa yang berdiri di antara dua pohon kalpataru. Hiasan ini terdapat di semua sisi kaki Candi Syiwa dan kelima candi besar lainnya.

Pada dinding kaki di sisi utara dan selatan Candi Syiwa, hiasan singa di atas diapit dengan panil yang memuat pahatan sepasang binatang yang sedang berteduh di bawah sebatang pohon kalpataru yang tumbuh dalam jambangan. Berbagai binatang yang digambarkan di sini, di antaranya: kera, merak, kijang, kelinci, kambing, dan anjing. Di atas setiap pohon bertengger dua ekor burung.

Pada sisi-sisi lain dinding kaki candi, baik kaki Candi Syiwa maupun candi besar lainnya, panil bergambar binatang ini diganti dengan panil ber gambar kinara-kinari, sepasang burung berkepala manusia, yang juga sedang berteduh di bawah pohon kalpataru.

Tangga untuk naik ke permukaan batur terletak di sisi timur. Tangga atas ini dilengkapi dengan pipi tangga yang dindingnya dihiasi dengan pahatan sulur-suluran dan binatang. Pangkal pipi tangga dihiasi pahatan kepala naga yang menganga lebar dengan sosok dewa dalam mulutnya. Di kiri dan kanan tangga terdapat candi kecil yang beratap runcing dengan pahatan Arca Syiwa di keempat sisi tubuhnya.

Di puncak tangga terdapat gapura paduraksa menuju lorong di permukaan batur. Di atas ambang gapura terdapat pahatan Kalamakara yang indah. Di balik gapura terdapat sepasang candi kecil yang mempunyai relung di tubuhnya. Relung tersebut berisi Arca Mahakala dan Nandiswara, dewa-dewa penjaga pintu.

Di permukaan batur terdapat selasar selebar sekitar 1 m yang mengelilingi tubuh candi. Selasar ini dilengkapi dengan pagar atau langkan, sehingga bentuknya mirip sebuah lorong tanpa atap. Lorong berlangkan ini berbelok-belok menyudut, membagi dinding candi menjadi 6 bagian. Sepanjang dinding tubuh candi dihiasi deretan pahatan Arca Lokapala. Lokapala adalah dewa-dewa penjaga arah mata angin, seperti Bayu, Indra, Baruna, Agni dan Yama.

Sepanjang sisi dalam dinding langkan terpahat relief Ramayana. Cerita Ramayana ini dipahatkan searah jarum jam, dimulai dari adegan Wisnu yang diminta turun ke bumi oleh para raja guna mengatasi kekacuan yang diperbuat oleh Rahwana dan diakhiri dengan adegan selesainya pembangunan jembatan melintas samudera menuju Negara Alengka. Sambungan cerita Ramayana terdapat dinding dalam langkan Candi Brahma.

Di atas dinding langkan berderet hiasan ratna. Di bawah ratna, pada sisi luar dinding langkan, terdapat relung kecil dengan hiasan Kalamakara di atasnya. Dalam relung terdapat 2 motif pahatan yang ditampilkan berselang-seling, yaitu gambar 3 orang yang berdiri sambil berpegangan tangan dan 3 orang yang sedang memainkan berbagai jenis alat musik.
Pintu masuk ke ruangan-ruangan dalam tubuh candi terdapat di teras yang lebih tinggi lagi. Untuk mencapai teras atas, terdapat tangga di depan masing-masing pintu ruangan. Dalam tubuh candi terdapat empat ruangan yang mengelilingi ruangan utama yang terletak di tengah tubuh candi.

Jalan masuk ke ruangan utama adalah melalui ruang yang menghadap ke timur. Ruangan ini ruangan kosong tanpa arca atau hiasan apapun. Pintu masuk ke ruang utama letaknya segaris dengan pintu masuk ke ruang timur. Ruang utama ini disebut Ruang Syiwa karena di tengah ruangan terdapat Arca Syiwa Mahadewa, yaitu Syiwa dalam posisi berdiri di atas teratai dengan satu tangan terangkat di depan dada dan tangan lain mendatar di depan perut. Arca Syiwa tersebut terletak di atas umpak (landasan) setinggi sekitar 60 cm, berbentuk yoni dengan saluran pembuangan air di sepanjang tepi permukaannya. Konon Arca Syiwa ini menggambarkan Raja Balitung dari Mataram Hindu (898 – 910 M) yang dipuja sebagai Syiwa.

Tidak terdapat pintu penghubung antara Ruang Syiwa dengan ketiga ruang di sisi lain. Ruang utara, barat, dan selatan memiliki pintu sendiri-sendiri yang terletak tepat di depan tangga naik ke teras atas. Dalam ruang utara terdapat Arca Durga Mahisasuramardini, yaitu Durga sebagai dewi kematian, yang menggambarkan permaisuri Raja Balitung. Durga digambarkan sebagai dewi bertangan delapan dalam posisi berdiri di atas Lembu Nandi menghadap ke Candi Wisnu. Satu tangan kanannya dalam posisi bertelekan pada sebuah gada, sedangkan ketiga tangan lainnya masing-masing memegang anak panah, pedang dan cakram. Satu tangan kirinya memegang kepala Asura, raksasa kerdil yang berdiri di atas kepala mahisa (lembu), sedangkan ketiga tangan lainnya memegang busur, perisai dan bunga. Arca Durga ini oleh masyarakat sekitar disebut juga Arca Rara Jonggrang, karena arca ini diyakini sebagai penjelmaan Rara Jonggrang. Rara Jonggrang adalah putri raja dalam legenda setempat, yang dikutuk menjadi arca oleh Bandung Bandawasa.

Dalam ruang barat terdapat Arca Ganesha dalam posisi bersila di atas padmasana (singgasana bunga teratai) dengan kedua telapak kaki saling bertemu. Kedua telapak tangan menumpang di lutut dalam posisi tengadah, sementara belalainya tertumpang dilengan kiri. Arca Ganesha ini menggambarkan putra mahkota Raja Balitung. selempang di bahu menunjukkan bahwa ia juga seorang panglima perang.

Dalam ruang selatan terdapat Arca Agastya atau Syiwa Mahaguru. Arca ini meliliki postur tubuh agak gemuk dan berjenggot. Syiwa Mahaguru digambarkan dalam posisi berdiri menghadap ke Candi Brahma di selatan dengan tangan kanan memegang tasbih sdan tangan kiri memegang sebuah kendi. Di belakangnya, di sebelah kiri terdapat pengusir lalat dan di sebelah kanan terdapat trisula. Konon Arca Syiwa Mahaguru ini menggambarkan seorang pendeta penasihat kerajaan.

Candi Wisnu terdapat di sebelah utara Candi Syiwa. Tubuh candi berdiri di atas batur yang membentuk selasar berlangkan. Tangga untuk naik ke permukaan batur terletak di sisi timur. Di sepanjang dinding tubuh candi berderet panil dengan pahatan yang menggambarkan Lokapala.

Baca juga : Wisata Candi Prambanan

Sepanjang dinding dalam langkan dihiasi seretan panil yang memuat relief Krisnayana. Krisnayana adalah kisah kehidupan Krisna sejak ia dilahirkan sampai ia berhasil menduduki tahta Kerajaaan Dwaraka. Di atas dinding langkan berderet hiasan ratna. Di bawah ratna, pada sisi luar dinding langkan, terdapat relung kecil dengan hiasan Kalamakara di atasnya. Dalam relung terdapat pahatan yang menggambarkan Wisnu sebagai pendeta yang sedang duduk dengan berbagai posisi tangan.

Candi Wisnu hanya mempunyai 1 ruangan dengan satu pintu yang menghadap ke timur. Dalam ruangan tersebut, terdapat Arca Wisnu dalam posisi berdiri di atas ‘umpak’ berbentuk yoni. Wisnu digambarkan sebagai dewa bertangan 4. Tangan kanan belakang memegang Cakra (senjata Wisnu) sedangkan tangan kiri memegang tiram. Tangan kanan depan memegang gada dan tangan kiri memegang setangkai bunga teratai. Candi Brahma letaknya di sebelah selatan Candi Syiwa. Tubuh candi berdiri di atas batur yang membentuk selasar berlangkan. Di sepanjang dinding tubuh candi berderet panil dengan pahatan yang menggambarkan Lokapala.

Sepanjang dinding dalam langkan dihiasi seretan panil yang memuat kelanjutan cerita Ramayana di dinding dalam langkan Candi Syiwa. Penggalan cerita Ramayana di Candi Brahma ini mengisahkan peperangan Rama dibantu adiknya, Laksmana, dan bala tentara kera melawan Rahwana sampai pada Sinta pergi mengembara ke hutan setelah diusir oleh Rama yang meragukan kesuciannya. Sinta melahirkan putranya di hutan di bawah lindungan seorang pertapa.

Di atas dinding langkan berderet hiasan ratna. Di bawah ratna, menghadap ke luar, terdapat relung kecil dengan hiasan Kalamakara di atasnya. Dalam relung terdapat pahatan yang menggambarkan Brahma sebagai pendeta yang sedang duduk dengan berbagai posisi tangan.

Candi Brahma juga hanya mempunyai 1 ruangan dengan satu pintu yang menghadap ke timur. Dalam ruangan tersebut, terdapat Arca Brahma dalam posisi berdiri di atas umpak berbentuk yoni. Brahma digambarkan sebagai dewa yang memiliki empat wajah, masing-masing menghadap ke arah yang berbeda, dan dua pasang tangan. Pada dahi di wajah yang menghadap ke depan terdapat mata ketiga yang disebut ‘urna’. Patung Brahma itu sebetulnya sangat indah, tetapi sekarang sudah rusak. Dinding ruang Brahma polos tanpa hiasan. Pada dinding di setiap sisi terdapat batu yang menonjol yang berfungsi sebagai tempat meletakkan lampu minyak.

Tips Memilih Guest House Ala Backpacker

Tips Memilih Guest House Ala Backpacker

tempatwisatadiyogyakarta.web.id – Tips Memilih Guest House Ala Backpacker, Guest house atau rumah sewa harian jadi solusi cerdas untuk tempat menginapmu bersama rombongan. Pasalnya jika dibanding menginap di hotel atau akomodasi lain, harganya akan lebih murah jika dihitung per orang.

1. KAPASITAS RUMAH DAN EXTRA BED
Karena memang dipilih sebagai tempat menginap untuk rombongan, kapasitas jadi salah satu hal yang jadi pusat perhatian saat memilih guest house. Kalau salah pilih, bukannya jadi lebih murah kamu malah terpaksa bayar lebih mahal untuk hitungan per orangnya.

Baca juga : Tips Traveling Ke Jogjakarta

Misalnya ketika kapasitas rumahnya bisa digunakan untuk 10 orang, tapi hanya dipakai untuk 4 orang dengan harga yang sama. Selain kapasitas normal sesuai jumlah tempat tidur yang tersedia, terkadang guest house juga menyediakan extra bed jika ruang-ruangnya masih memungkinkan. Bahkan, tak jarang kamu bisa temukan guest house yang memberikan extra bed tanpa tambahan biaya sedikit pun alias gratis!

2. SECURITY
Beberapa guest house terkadang juga memiliki penjaga 24 jam, bisa laki-laki atau perempuan. Penjaga laki-laki memang lebih bisa diandalkan untuk masalah keamanan. Tapi kalau masalah kebersihan, penjaga perempuan biasanya jauh lebih teliti. Selain menjaga keamanan dan kebersihan guest house, keberadaan penjaga rumah 24 jam pun cukup bisa diandalkan jika kamu perlu bantuan.

Dengan mudah kamu bisa bertanya tentang tempat-tempat wisata atau pusat-pusat kuliner di sekitar. Apalagi jika penjaganya ramah dan friendly. Namun terkadang keberadaan penjaga ini juga membuat kamu merasa kurang bebas dan kurang nyaman saat menginap karena merasa diawasi. Apalagi jika kamu kebetulan perempuan berhijab, bayangkan saja jika harus memakai kerudung setiap waktu ketika berada di luar kamar karena penjaganya laki-laki. Nggak nyaman kan?

3. DAPUR DAN PERALATAN MEMASAK
Nggak mau repot acara masak-memasak saat liburan, peralatan dapur mungkin dianggap tak terlalu penting. Gelas dan peralatan lain yang bisa digunakan untuk membuat teh atau kopi rasanya sudah cukup. Lain lagi jika dari rumah sudah berencana ingin mengadakan acara masak-memasak untuk menikmati quality time bersama keluarga.

Adanya peralatan dapur yang cukup lengkap mungkin jadi kebutuhan penting yang harus tersedia di guest house, kecuali jika kamu mau repot-repot membawa peralatan dapur dari rumah sendiri. Bagi keluarga yang kebetulan berlibur dengan membawa bayi atau balita, dapur juga menjadi fasilitas penting yang harus tersedia di tempat menginap. Karena para bunda tak perlu kesulitan jika harus membuat susu untuk putra putrinya yang masih kecil.

4. SARAPAN
Beberapa guest house terkadang memasukkan sarapan pagi dalam rincian biaya menginap per malam. Meskipun kadang jumlahnya terbatas dan tak sesuai dengan jumlah orang yang menginap. Lumayan kan untuk menghemat budget liburan? Kamu juga tak perlu susah-susah mencari sarapan saat perut keroncongan di pagi hari. Apalagi jika guest house tempatmu menginap jauh dari tempat-tempat makan. Namun ada pula guest house yang menyediakan sarapan dengan biaya tambahan. Bahkan beberapa tidak menyediakan sama sekali.

5. WIFI
Jika menginap di guest house dalam rangka liburan dan mencari momen quality time bersama keluarga, wifi mungkin jadi fasilitas tambahan yang tak terlalu penting. Koneksi internet via gadget masing-masing cukup lah ya? Namun bagi sebagian orang, koneksi internet atau wifi sama pentingnya dengan makanan sehari-hari. Misalnya bagi orang-orang kantoran yang berkunjung ke Jogja dalam rangka urusan pekerjaan. Wifi bisa jadi adalah salah satu sarana untuk menyelesaikan pekerjaan mereka.

Tips Traveling Ke Jogjakarta

Tips Traveling Ke Jogjakarta

tempatwisatadiyogyakarta.web.id – Tips Traveling Ke Jogjakarta, Kawasan Jalan Malioboro Jogja merupakan salah satu tempat wisata paling laris di Jogja, apalagi pas musim liburan seperti ini. Maliboro terkenal sebagai sentral pariwisata kota Gudeg karena jalan ini merupakan jantungnya kota Jogja.

Sayangnya, banyak wisatawan yang mengeluh saat berwisata di kawasan Maliboro. Mulai dari harga parkir kendaraan yang tak wajar hingga kadang keluhan tentang pengalaman mereka saat berbelanja di pedagang kaki lima.

1. Parkir di Tempat Parkir Resmi yang Sudah Disediakan
Salah satu keluhan terbesar saat jalan-jalan ke kawasan Malioboro adalah parkir kendaraannya yang terkadang tak wajar. Parkir motor yang normalnya Rp. 2,000 dan mobil yang normalnya Rp. 5,000 tiba-tiba bisa melonjak tajam menjadi berkali-kali lipat. Tentu saja banyak pemilik kendaraan yang kaget dan mengumpat ketika diharuskan membayar Rp. 20.000 – Rp. 100,000 hanya untuk parkir kendaraan.

Baca juga : Tips dan Trik Belanja Murah di Malioboro, Yogyakarta

Hal ini sebenarnya tidak akan terjadi kok kalau kamu parkirnya di tempat parkir resmi yang sudah disediakan oleh pemkot Jogja. Tempatnya ada di kawasan parkir Malioboro, dekat dengan stasiun Tugu. Di tempat ini kamu bisa parkir baik mobil maupun motor dengan tarif yang wajar. Kalau pengen lebih aman lagi, parkir saja di dalam parkiran Mall Malioboro. Yang jelas, jangan parkirkan kendaraan kamu di parkiran-parkiran liar (biasanya ada di dalam-dalam gang) karena biasanya tarifnya gak wajar sih, apalagi untuk musim liburan seperti ini.

2. Jangan Malu Tanya Harga
Selain masalah parkir, masalah makan di lesehan Malioboro juga kerap kali jadi masalah. Banyak pelanggan yang kaget karena harga makanan yang terkesan gak wajar dan mahal banget untuk ukuran kota Jogja. Alhasil, mereka ramai-ramai memviralkan masalah ini ke sosial media. Memang sih, lesehan Malioboro terkenal mahal. Padahal makanannya biasa-biasa saja, seperti ayam goreng, gudeg, dan lain-lain. Tapi, karena target pemilik warung-warung lesehan tersebut memang para wisatawan yang ingin menikmati asyiknya makan di lesehan Malioboro, harga yang dipatok memang lebih tinggi dibanding dengan warung-warung sejenisnya di luar kawasan Malioboro.

Untuk menghindari shock di belakang saat membayar, kamu harus berani buang rasa malu dan tanya dulu harga untuk makanan yang ingin kamu pesan di depan. Kalau perlu, mintalah daftar harga dari warung lesehan tersebut. Eits, gak sampai di situ. Kamu juga harus kritis bertanya biar gak kena jebakan batman. Umpamanya di situ tertulis harga ayam goreng Rp. 20.000, kamu harus berani tanya, ini ayamnya aja, atau udah sama nasi, sambel, lalapan, dan sebagainya. Gak perlu malu untuk bertanya. Lah daripada malu bertanya nanti kamunya malah kaget suruh bayar ratusan ribu kan gak enak.

3. Berani Tegas ke Pengamen
Masalah pengamen juga jadi salah satu “penyakit” akut yang dibenci oleh wisatawan di Malioboro. Memang sih, Jogja dulu terkenal dengan musisi jalanannya yang memeriahkan suasana syahdu di Malioboro. Tapi, kalau pengamennya suka maksa-maksa dan gak berhenti silih berganti kan lama-lama kamu juga yang repot.

Kebayang gak sih baru enak-enaknya makan tapi di depan kamu pengamen datang silih berganti menghabiskan stok uang receh kamu? Kalau kamu memang merasa nyaman-nyaman aja, gak terganggu, dan masih punya uang receh/uang kecil untuk dibagi ke pengamen ya udah gak masalah. Tapi, kalau kamu udah gak punya uang receh lagi dan pengamen tetap datang ke kamu, kamu harus berani nolak, ya.

Kalau seumpama mereka tetap maksa, bahkan mengintimidasi kamu karena kamu gak memberikan uang pada mereka, jangan takut untuk tegas ke mereka. Kamu juga bisa melaporkan mereka ke UPT Malioboro jika tindakan mereka sudah benar-benar mengganggu. Tapi, gak semua pengamen di kawasan Malioboro seperti itu kok. Masih banyak yang benar-benar berniat menghibur dan gak memaksa jika memang kamu udah gak ada uang receh lagi.

4. Hati-Hati Jebakan Batman Becak/ Bentor
Wisatawan dari luar kota biasanya sangat tertarik untuk menelusuri kawasan Jalan Malioboro dengan mengendarai becak kayuh atau becak motor. Sayangnya, gak semua abang becak dan bentor di kawasan Malioboro niatnya tulus mengantarkan kamu jalan-jalan keliling Malioboro. Kasus yang udah sering terjadi adalah wisatawan ditawari naik becak/bentor keliling Maliobor dengan tarif murah. Wisatawan pasti tergiur lah.

Tapi, bukannya dibawa keliling Malioboro, wisatawan malah akan dibawa ke toko-toko oleh-oleh dan souvenir yang letaknya jauh dari kawasan Malioboro. Ini modus para pengendara becak/bentor sih biar penumpangnya belanja di situ. Biasanya abang becak/bentor mengejar fee atau uang dari toko-toko oleh-oleh dan souvenir karena telah membawa pengujung ke situ.

Kalau pengunjung belanja dalam jumlah besar, makin besar pula fee yang didapat oleh abang becak. Sebaliknya, kalau wisatawan yang dibawa ke situ gak belanja, si abang becak dapat zonk. Kebayang dong ya kalau kamu kena jebakan batman dan dibawa ke toko-toko seperti itu dan kamu gak belanja, kamu bakal disuguhi dengan wajah BT abang-abang becak dan kemungkinan terburuk adalah kamu bakal diturunin di tengah jalan. Meski gak semua abang becak di Jogja begitu, kamu tetep harus antisipasi, ya.

Kalau ditawarin keliling-keliling Maliboro oleh abang becak, kamu harus langsung jawab aja “Tapi saya gak mau kalau diantar ke toko macem-macem ya pak ya. Saya cuma mau ke Malioboro.”, atau kamu bisa juga bilang “Kalau nanti bapak berhenti di toko oleh-oleh saya gak belanja ya pak. Saya udah belanja kemarin”. Tapi sekali lagi, gak semua tukang becak seperti itu, ya. Banyak yang masih ramah, tulus, dan emang niat cari rejeki dengan mengantarkan wisatawan keliling-keliling Malioboro tanpa modus berhenti di toko-toko.

5. Jangan Malu untuk Menawar
Salah satu hal yang paling menarik tentang Malioboro adalah pedangang-pedagang kaki lima yang menawarkan souvenir-souvenir khas Jogja. Kalau kamu pas jalan-jalan ke Malioboro dan tertarik pengen beli souvenir-souvenir seperti kaos, gantungan kunci, atau apapun yang dijual di situ, jangan pernah malu untuk menawar.

Harga yang pertama ditawarkan oleh pedangang di situ pasti terbilang lumayan mahal untuk ukuran souvenir-souvenir di Jogja, makanya, kamu harus berani nawar. Tawar saja separuh dari harga yang ditawarkan oleh pedagang, kalau dia gak mau, beranjaklah pergi dan cari pedagang yang lain. Toh, sepanjang jalan Malioboro pedagang souvenir gak hanya satu-dua, tapi bener-bener banyak dan berjejer dari ujung ke ujung.

Meski demikian, kamu nawarnya jangan sadis-sadis, ya. Meski pedagang nantinya tetep ngotot menjual dagangannya dengan harga yang agak tinggi (kalau dibandingkan dengan harga souvenir yang dijual di luar kawasan Malioboro), ya udahlah pahamin aja kalau harga-harga tersebut adalah harga yang wajar untuk kawasan wisata padat pengunjung seperti Malioboro.

Trik Belanja Murah di Malioboro, Yogyakarta

Tips dan Trik Belanja Murah di Malioboro, Yogyakarta

tempatwisatadiyogyakarta.web.id – Tips dan Trik Belanja Murah di Malioboro, Yogyakarta, Jalan Malioboro jadi daya tarik tersendiri bagi para turis yang tengah berlibur. Yap, sepanjang jalan yang menghubungkan Stasiun Tugu dengan pintu masuk Alun-Alun Malioboro, berjejer ratusan toko pernak-pernik tradisional.

Mulai dari pernak-pernik tradisional seperti batik, blangkon, keris hingga kaus ala distro lokal, Dagadu bisa kamu dapatkan dengan harga yang terjangkau. Lumayan kan buat oleh-oleh sanak saudara hingga teman di kota asal.

Tapi, kamu nggak bisa asal datang dan membeli berbagai pernak pernik dengan harapan dapat harga murah. Ada berbagai trik dan tips untuk menaklukkan perlawanan tawar menawar dari para pedagang.

Baca juga : 4 Titik Transportasi Ke Borobudur

Nah, buat kamu yang dalam waktu dekat ada rencana jalan ke Malioboro, Pegipegi punya tujuh tips yang bisa kamu lakukan agar dapat harga murah kala berbelanja di sana. Yuk, disimak!

1. BEKAL BAHASA JAWA
Hal yang paling penting saat melakukan tawar menawar adalah cara berkomunikasi. Yap, lataran kamu berada di Yogyakarta di mana Bahasa Jawa menjadi alat komunikasi sehari-hari, maka bekali dirimu dengan sedikit kosakata maupun kalimat. Dengan begitu, para pedagang akan segan dengan kamu dan enggan melempar harga tinggi. Minimal, bisa tanya “Iki regane piten, bu?” untuk harga barang.

2. TAWAR SETENGAH HARGA
Dari beberapa pengalaman, tiap pedagang bisa menaikkan harga hingga 20 sampai 30 persen per barang. Nggak terkecuali di kawasan Malioboro. Jadi, sebagai awal, kamu coba tawar harga barang di awal sebesar 50 persen atau setengah harga. Tujuannya untuk mengantisipasi sang pedagang melempar untung tinggi di awal.

3. TRIK TINGGAL PERGI
Tawar menawar adalah proses paling alot dalam sebuah transaksi. Seperti kebanyakan pedagang, para penjaja pernak-pernik di Malioboro punya berbagai jurus jitu buat mengalahkan tawaran kamu. Bagaimana cara menyerang balik? Yap, tinggal pergi saja! Jika kamu merasa tawaran sudah mentok, coba tinggal pergi sebentar. Biasanya, sang pedagang bakal memanggil kamu kembali untuk bernegosiasi lebih lanjut maupun menerima tawaran kamu.

4. JANGAN TERBURU-BURU
Kawasan Malioboro dihuni ribuan pedagangan kaki lima dengan berbagai macam barang yang ditawarkan. Jika kamu sudah cocok dengan barangnya, jangan terburu-buru menerima penawaran harganya. Coba bersabar sambil berkeliling mencari pedagang lain dengan barang yang sama dengan harga yang lebih murah. Toh, pernak-pernik yang ada di Malioboro nggak cuma dijual satu pedagang. Jadi, kuncinya cuma sabar, deh!

5. TANPA BUSANA ALA TURIS
Status kamu memang turis, tapi berpakaianlah dengan santai. Ketika kamu berencana berburu belanjaan, silahkan pilih busana yang santai namun tetap mewakili orang lokal di sana. Untuk cewek, kamu bisa pakai busana yang tertutup, sedangkan pria bisa pakai batik dengan bawahan celana bahan hitam. Intinya, kembali ke kearifan lokal ya.

6. JALAN KAKI SAJA
Kawasan Malioboro disesaki berbagai macam moda transportasi lokal, seperti becak maupun andhong. Kebanyakan turis pun tergiur buat berkeliling dengan menumpang kendaraan tersebut. Jika kamu ingin datang ke suatu toko di Malioboro dengan harapan dapat harga murah, lebih baik jalan kaki saja. Tujuannya, agar imej turis nggak melekat di diri kamu.

7. AJAK ORANG LOKAL
Jika kamu belum punya keberanian buat berbelanja sendiri tapi masih ingin dapat harga miring, coba ajak orang lokal! Ini gunanya kamu mencari kenalan di lokasi wisata sebelum memutuskan berangkat ke sana. Selain soal spot-spot menarik buat berbelanja, orang lokal pasti mengerti bagaimana meluluhkan para pedagang tersebut. Orang lokal yang dimaksud bisa teman maupun saudara yang tinggal di destinasi wisata.

1 2