air

8 Air Terjun di Yogyakarta yang Segar dan Wajib Dikunjungi

8 Air Terjun di Yogyakarta yang Segar dan Wajib Dikunjungi – Wisata Alam diprediksi akan lebih digandrungi oleh wisatawan selama era new normal. Salah satu tempat yang bisa dikunjungi adalah air terjun. Jika kamu sedang berada di Yogyakarta dan ingin berlibur sambil menikmati alam dan mencari udara segar, kamu bisa berkunjung ke 10 air terjun berikut

1. Air Terjun Tlogo Muncar, Kabupaten Sleman

Air Terjun Tlogo Muncar berlokasi di Kaliurang, Kabupaten Sleman. Obyek Wisata Alam (OWA) tersebut sudah menawarkan pemandangan yang menakjubkan bahkan sebelum kamu tiba di air terjun. Sembari menaiki tangga batu dan menembus semak dan hutan, pengunjung akan disambut oleh pepohonan yang masih asri dan merupakan habitat dari monyet ekor panjang satwa asli penghuni Taman Nasional Gunung Merapi.

Terletak pada ketinggian 878 meter dari permukaan laut (mdpl), tidak dipungkiri bahwa tempat wisata tersebut memiliki udara yang sejuk. Jika ingin bermain di bawah air terjun setinggi sekitar 30–45 meter ini, jangan lupa untuk membawa baju ganti.

2. Air Terjun Pantai Jogan, Kabupaten Gunungkidul

Ingin main di pantai namun juga ingin melihat air terjun? Kamu bisa melakukan keduanya di Pantai Jogan yang terletak di Kabupaten Gunungkidul. Lokasi air terjun tersebut tidak terlalu jauh dari tempat parkir kendaraan. Wisatawan hanya perlu menuruni anak tangga untuk mencapainya.

Air tawar akan bercampur dengan air laut di atas pasir putih. Jika kamu sedang berkunjung saat air laut tidak surut, ombak pantai tersebut bisa mencapai air terjun. Sumber air pada air terjun tersebut dikatakan berasal dari perbukitan karst yang berada di bagian utara pantai.

Dengan ketinggian sekitar 12 meter, air terjun tersebut memiliki debit air tawar yang besar pada musim penghujan. Air Terjun Pantai Jogan berlokasi di Dusun Dawet, Kecamatan Tepus.

3. Air Terjun Luweng Sampang, Kabupaten Gunungkidul

Berbeda dengan air terjun lainnya, Air Terjun Luweng Sampang di Jalan Juminahan, Sampang, Kecamatan Gedangsari, Kabupaten Gunung Kidul terlihat cukup unik. Pasalnya, air terjun tersebut dihiasi oleh bebatuan cadas berwarna putih yang terlihat kontras dengan birunya air.

Selain itu, bebatuan tersebut juga memiliki garis-garis unik yang terbentuk secara alami akibat terkena erosi dari aliran air. Air Terjun Luweng Sampang diapit oleh dua bebatuan cadas yang membuatnya makin menarik. Wisatawan juga bisa duduk sambil menikmati pemandangan dari atas bebatuan tersebut. Waktu terbaik mengunjungi Luweng Sampang adalah pada musim penghujan karena aliran airnya akan cukup besar. Sebaliknya pada musim kemarau, airnya surut.

4. Air Terjun Kedung Pedut, Kabupaten Kulon Progo

Tempat wisata ini lokasinya berdekatan dengan tempat wisata lain, yakni Ekowisata Sungai Mudal dan Air Terjun Kembang Soka.

Usai berkunjung ke dua tempat tersebut, jangan lupa untuk mampir ke Air Terjun Kedung Pedut untuk menikmati sejuknya air yang berasal dari sumber mata air dalam bumi. Pepohonannya yang masih rindang membuat lingkungan tempat wisata makin asri. Berkunjung ke sana untuk melepas penat merupakan hal yang tepat.

Selain berenang di air terjun dan memanfaatkan sejumlah kolam pemandian alami, wisatawan juga ditawarkan beragam spot foto menarik seperti helikopter di tepi kolam pemandian dan hammock. Bagi pengunjung yang ingin menguji adrenalin, mereka bisa memanfaatkan wahana flying fox yang memiliki panjang sekitar 40 meter. Air Terjun Kedung Pedut berlokasi di Banyunganti, Jatimulyo, Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo.

5. Air Terjun Sri Gethuk, Kabupaten Gunungkidul

Kawasan wisata Air Terjun Sri Gethuk berlokasi di Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul. Selain menikmati pemandangan air terjun, wisatawan juga bisa berkunjung ke Goa Rancang Kencana.

Untuk menuju ke lokasi air terjun, wisatawan bisa memanfaatkan fasilitas rakit sambil menikmati pemandangan sekitar. Ada juga fasilitas flying fox yang bisa dinikmati wisatawan dan kegiatan body rafting yang tidak kalah asyiknya untuk dicoba.

6. Air Terjun Lepo, Kabupaten Bantul

Jika ingin berkunjung ke Air Terjun Lepo, lokasinya berada di Dusun Pokoh, Desa Dlingo, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul. Air terjun ini terletak di kaki perbukitan. Hal ini membuatnya memiliki udara serta pemandangan alam yang indah dan cocok bagi wisatawan yang ingin menyegarkan mata.

Kendati pengunjung bisa berenang di kolam alami, namun perlu dicatat bahwa kolam pertama cukup dalam. Alhasil, pengelola tempat wisata menyediakan ban untuk disewa.

Sementara di kolam kedua, anak-anak bisa berenang di sana karena tidak terlalu dalam. Jika ingin melihat air terjun, wisatawan harus turun terlebih dahulu.

Baca Juga : Pasar Jajanan Buka Puasa di Jogja

7. Air Terjun Banyunibo, Kabupaten Gunungkidul

Tempat wisata ini berlokasi di Dusun Batur, Desa Putat, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul dan tidak terlalu jauh dari obyek wisata Gunung Api Purban Nglanggeran. Setibanya di sana, pengunjung harus berjalan sekitar 400 meter dari area parkir untuk melihat keindahan air terjun setinggi kurang lebih 35 meter.

Air Terjun Banyunibo berada di antara perbukitan, hal ini membuatnya memiliki kombinasi pemandangan yang menarik. Mulai dari asrinya perbukitan hijau hingga persawahan. Selain bisa menikmati alam sambil berenang, wisatawan juga bisa menjelajahi kuliner Dusun Kampung Mas Plumbungan atau berburu aneka kerajinan di Dusun Bobung.

8. Curug Pulosari, Kabupaten Bantul

Curug Pulosari terletak di Njurug, Desa Sendangsari, Kecamatan Pajangan, Kabupaten Bantul. Air terjun ini terbilang cukup kecil lantaran tingginya hanya 5-7 meter saja. Kendati demikian, pemandangan alam dan segarnya air yang ditawarkan tidak kalah menarik dari air terjun lain yang lebih tinggi.

Tempat wisata alam ini terbilang cukup tersembunyi. Bagi pengunjung yang ingin menghindari keramaian kota dan menikmati suasana hening, Curug Pulosari adalah pilihan yang tepat. Selain berenang dan menikmati pemandangan alam di gazebo, wisatawan yang ingin memacu adrenalin bisa coba olahraga panjat tebing. Musim hujan merupakan waktu yang tepat untuk berkunjung ke Curug Pulosari ini. Saat musim kemarau, air terjun ini kering kerontang.

Nah itu dia rekomendasi air terjun di Yogyakarta yang wajib anda kunjungi, semoga artikel ini membantu

Pusat Belanja Malioboro Yogyakarta

Pusat Belanja Malioboro Yogyakarta

Pusat Belanja Malioboro Yogyakarta – Malioboro merupakan kawasan perbelanjaan yang legendaris yang menjadi salah satu kebanggaan kota Yogyakarta. Penamaan Malioboro berasal dari nama seorang anggota kolonial Inggris yang dahulu pernah menduduki Jogja pada tahun 1811 – 1816 M yang bernama Marlborough

Kolonial Hindia Belanda membangun Malioboro di pusat kota Yogyakarta pada abad ke-19 sebagai pusat aktivitas pemerintahan dan perekonomian. Secara simbolis juga bermaksud untuk menandingi kekuasaan Keraton atas kemegahan Istananya yang mendominasi kawasan tersebut.

Untuk menunjang tujuan tersebut maka selanjutnya Kolonial Belanda mendirikan :

  • Benteng Vredeburg, ( didirikan pada tahun 1765. Sekarang benteng tersebut dikenang menjadi sebuah museum yang di buka untuk wisata publik )
  • Istana Keresidenan Kolonial ( sekarang menjadi Istana Presiden Gedung Agung di tahun 1832M )
  • Pasar Beringharjo, Hotel Garuda ( dahulu sebagai tempat menginap dan berkumpul para elit kolonial.
  • Kawasan Pertokoan Malioboro ( menjadi pusat perekonomian kolonial )

Bangunan-bangunan bersejarah yang terletak di kawasan Malioboro tersebut menjadi saksi bisu perjalanan kota ini dari masa ke masa.

Malioboro menyajikan berbagai aktivitas belanja, mulai dari bentuk aktivitas tradisional sampai dengan aktivitas belanja modern. Salah satu cara berbelanja di Malioboro adalah dengan proses tawar-menawar terutama untuk komoditi barang barang yang berupa souvenir dan cenderamata yang dijajakan oleh pedagang kaki lima yang berjajar di sepanjang trotoar jalan Malioboro. Berbagai macam cederamata dan kerajinan dapat anda dapatkan disini seperti kerajinan dari perak, kulit, kayu, kain batik, gerabah dan sebagainya.

Anda jangan heran melihat harga barang ditempat ini, misalnya penjual souvenir menawarkan barang tersebut seharga Rp.50.000,- Kalau anda tertarik barang tersebut maka tawaran tersebut harus segera disusul dengan proses tawar menawar dari wisatawan. Dari proses tersebut harga menjadi turun drastis, misalnya pedagang tersebut akhirnya rela melepas barang tersebut dengan harga Rp.20.000,-. Hal ini juga berlaku bila wisatawan berkunjung dan belanja di pasar tradisional Beringharjo yang letaknya tak jauh dari Malioboro. Begitulah keunikan tradisi dari wisata belanja di Malioboro, pembeli harus bisa tawar menawar.

Kawasan Malioboro dekat dengan obyek wisata sejarah lainya yang sangat banyak menyimpan cerita sejarah yang menarik. Setelah anda berbelanja di Malioboro anda bisa meneruskan mengunjungi obyek wisata lain yang jaraknya cukup dekat. Tempat dan obyek wisata tersebut seperti berwisata arsitektur peninggalan kolonial Belanda dan wisata belanja tradisional lainnya. Obyek wisata sejarah yang berdekatan dengan Malioboro seperti : Keraton Yogyakarta, Alun-alun Utara, Masjid Agung, Benteng Vredeburg, Museum Sonobudoyo dan Kampung Kauman.

Wisata Arsitektur peninggalan kolonial di Yogyakarta yang masih bisa disaksikan seperti Gedung Siciatet ( sekarang menjadi Taman Budaya ), Bank Indonesia, Hotel Inna Garuda dan Bank BNI’46. Sedangkan wisata belanja tradisional yang cukup berdekatan dengan Malioboro terdapat di Pasar Ngasem dan Pasar Beringharjo. Terdapat juga perpustakaan umum milik Pemerintah Provinsi DIY bagi wisatawan yang gemar membaca.

Wisatawan juga dapat menyaksikan kekhasan lain dari Malioboro seperti puluhan andong dan becak yang parkir berderet disebelah kanan jalan pada jalur lambat Malioboro. Sedangkan pada sebelah kiri jalan wisatawan dapat melihat ratusan kendaraan bermotor yang diparkir berjajar yang menjadi tanda bahwa Malioboro merupakan kawasan yang banyak menyedot para pengunjung.

Aktivitas wisatawan di Malioboro tidak hanya pada siang hari saja, akan tetapi di kawasan Malioboro ini aktivitas wisata akan terus berlanjut dengan adanya nuansa makan malam yang disediakan warung-warung yang bermunculan pada malam hari, terutama setelah pukul 21.00 WIB. Sambil menyantap hidangan di warung lesehan Malioboro, wisatawan akan dihibur oleh musisi jalanan yang mengunjungi lesehan tersebut sambil mengalunkan lagu-lagu tertentu.

Lokasi

Alamat : Jalan Malioboro, Kota Yogyakarta Deaerah Istimewa Yogyakarta.

Akses

Malioboro merupakan kawasan wisata yang menjadi andalan dari kota yogyakarta sehingga banyak cara untuk sampai ketempat ini. Dari Terminal Giwangan atau halte yang tersebar di kota Yogyakarta menggunakan bus kota jalur 4 dan bus Transjogja trayek 3A atau 3B.

Wisatawan juga bisa menggunakan jasa taksi dengan memesan via telepon maupun bisa mencegatnya di pinggir jalan. Bisa juga menggunakan andong atau becak sambil menikmati suasana kota Yogyakarta.

Harga Tiket

Kawasan Malioboro merupakan tempat umum sehingga wisatawan tidak dikenakan biaya, hanya dikenakan biaya perkir kendaraan.

Fasilitas

Fasilitas dan akomodasi sebagai sarana penunjang yang mendukung sektor kepariwisataan di tempat ini sudah sangat lengkap. Hotel berbintang lima sampai dengan hotel kelas melati banyak tersedia disekitar tampat ini seperti di Jalan Mangkubumi, Jalan Dagen, Jalan Sosrowijayan, Jalan Malioboro, Jalan Suryatmajan dan Jalan Mataram. Atau mencari penginapan di bagian barat, yaitui di Jalan Ngasem dan daerah Wijilan yang letaknya tidak jauh dari Malioboro.

Rumah makan pun banyak tersebar di wilayah ini dengan menu dan selera yang sangat beragam mulai dari warung angkringan ( warung berbentuk gerobak yang menyediakan makanan lokal ), masakan khas Yogyakarta yang disajikan dalam suasana lesehan seperti gudeg, nasi goreng, sambel+lalapan dan sebagainya. Tersedia juga restoran atau cafe yang menyediakan makanan masakan cina, fast food atau masakan ala barat berupa steak, beef lasagna dan lain-lain.

Fasilitas lain berupa tempat ibadah, polisi pariwisata, pos informasi, kios money changer, ATM, warnet, tampat parkir dan lain-lain. Tersedia juga kios yang menyediakan oleh –oleh makanan khas Yogyakarta yang berada di Jalan Mataram atau sebelah barat Malioboro yang menyediakan beragam jenis dan bentuk oleh-oleh dan penganan khas Jogja seperti yangko, geplak, bakpia, berbagai jenis keripik dan lain-lain.